Yesus Kristus adalah TUHAN yang Sejati
Bacaan Yoh 1:1-18
Topik kita malam ini adalah untuk menguatkan kepercayaan kita kepada TUHAN yang benar dan mahakuasa. Di kalangan orang belum mengenal TUHAN yang benar, ada semacam rasa penasaran bahkan antipati karena orang Kristen dianggap itu menyembah banyak Tuhan. Bahkan orang Kristen pun sering ragu atau tidak mampu menjelaskan apabila ada orang bertanya tentang hal ini. Marilah kita perhatikan penjelasan firman TUHAN malam ini.
Pertama, Yesus Kristus adalah Allah yang Mahakuasa.
Dimulai dengan adanya Firman, dan FIRMAN itu sendiri adalah ALLAH. Perhatikanlah kata FIRMAN, yaitu perkataan yang keluar dari ALLAH. Di dalam Firman itu ada kuasa karena Allah bersama-sama dengan Firman itu dan Firman itulah Allah. Pada ay.14 Dengan tegas disebutkan yang adalah Allah itu telah menjadi manusia. Dan diam di antara kita. Dialah Yesus Kristus yang disebut sebagai Anak Allah. Sebagaimana seseorang mewarisi sifat keturunan dari bapaknya, demikianlah Yesus adalah Anak Allah karena di dalam dia ada segala kepenuhan ALLAH, Dia adalah Allah sejati!
Kol 2:9 Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan,
Istilah Anak digunakan karenaYesus membawa segala sifat ALLAH yang sempurna. Itulah sebabnya ketika orang Filipus bertanya kepadaNya,
“Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.”
Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa… (Yoh. 14:8-9)
Inilah penyataan yang sangat terang bagi kita tentang ANAK ALLAH. Allah tidak kawin atau mempunyai anak dengan sendirinya, sebagaimana pengertian dengan akal manusia yang sangat terbatas.
Kedua, di dalam Dia ada HIDUP
Satu lagi kata yang kita gunakan dalam penertian kita yang terbatas adalah kata HIDUP. Secara sederhana kita mengatakan seseorang atau seekor binatang itu hidup apabila ia nampak masih bernafas, bergerak atau ada aktifitas biologis pada tubuhnya. Atau mati, apabila sudah tidak bernyawa lagi. Tetapi yang dimaksud HIDUP dalam pandangan ALLAH dan pengertian Kekristenan adalah persekutuan dengan TUHAN. Bukan persatuan! Janganlah kita terkecoh pada istilah ini, karena ada pandangan tentang seseorang yang telah mati apabila didoakan atau diupacarai akan bersatu dengan TUHAN.
Perhatikanlah ucapan Yesus dalam Yoh 15:5 Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.
Dan Yoh 6:56 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.
Ketiga, hidup itu memancarkan terang bagi manusia.
Terang atau cahaya yang dipancarkan dari sesuatu yang bercahaya. Seperti, lampu, bintang dan matahari. ALLAH adalah sumber cahaya dan dari DIA memancar terang kemuliaan yang memenuhi semesta. Ketika Adam dan Hawa mengambil keputusan untuk tidak mematuhi Allah saat itu ia telah terpisah dari ALLAH. Tidak dapat bersekutu dengan ALLAH dan seketika itu ia kehilangan kemuliaan ALLAH. Ia bersembunyi dari cahaya kemuliaan Allah. Bukan hanya Adam dan Hawa, tetapi semua keturunannya dan bahkan seluruh isi dunia telah tercemar oleh dosa sehingga di dalam dunia ini tidak ada terang, tidak ada kemuliaan Allah. Rm 3:23 Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,
Sebagaimana Allah datang mencari dan memanggil Adam demikian juga Dia datang dan memanggil kita di dalam Kristus. Supaya kita kembali kepada terang itu. Kembali kepada kemuliaan yang ALLAH sediakan bagi kita sejak semula. Di dalamYesus kita memperolehkembali kemuliaan Allah yang diberikan kepada kita.
Ibr 1:3 Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan.
Bacaan; Luk 15:11-24 dan Yes 55:6-7
Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepadaNya selama Ia Dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan ranangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihinya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya.
Seseorang yang sedang disiksa di kantor polisi karena kedapatan mencuri, berteriak; tobat…tobat… tobat! Ia diadili dan dijebloskan ke dalam penjara selama beberapa bulan. Tetapi tidak lama setelah dilepaskan ia kembali melakukan perbuatan yang sama. Pertobatannya tidak sungguh-sungguh, hanya karena supaya tidak disiksa dan tidak memperoleh pengampunan.
Pertobatan dalam bacaan kita hari ini adalah pertobatan di hadapan TUHAN, yaitu pertobatan hidup secara total yang mendapat pengampunan dari TUHAN dan hidup bersama Dia selama-lamanya. Apakah yang seharusnya kita lakukan agar kita mendapatkan pengampunan atas segala dosa kita? Marilah kita perhatikan dengan baik langkah-langkah yang benar agar mendapat pengampunan berikut ini.
Pertama, menyadari kekeliruan
Ketika anak bungsu itu mellihat keadaanya yang serba menderita ia mulai menyadari kesalahannya. Keadaannya jauh berbeda dengan kondisi kalau ia tinggal bersama dengan bapanya. Kita dapat menyadari kekeliruan apabila kita mau menggunakan standar yang benar sebagai perbandingan. Bukan mengandalkan pengalaman, pengetahuan atau kekuatan kita yang pasti gagal. Menuju Maut
Ada yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut (Ams 14:12)
Sejak jatuh ke dalam dosa, manusia telah kehilangan kemuliaan Allah dan tersesat tanpa pedoman yang menolongnya menuju TUHAN. Apapun yang mereka anggap benar, ujungnya menuju maut. Kekeliruan hanya dapat diperbaiki apabila kita mengenal kebenaran yang asli atau yang sejati. Yesus berkata, ‘Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yoh 14;6). Hubungan kembali dengan Allah hanya dapat diperoleh di dalam Kristus. Tidak ada cara lain!
Kedua, berseru kepada Allah
Anak bungsu itu bangkit dan pergi kepada ayahnya, ia melakukan tindakan menuju kepada Allah. Nabi Yesaya mengatakan, “Carilah TUHAN… Berserulah kepada-Nya…” Hanya Dia yang pantas kita cari dan kepada-Nya kita harus berseru, bukan kepada yang lain. Sekarang inilah waktu yang diberikan TUHAN kepada kita. Janganlah menyia-nyiakannya. Karena mungkin kesempatan itu tidak akan datang lagi untuk yang kedua kalinya.
Ketiga, meninggalkan kejahatan
Seorang ibu menegur anaknya yang salah mengenakan seragam sekolah karena kesiangan dan terburu-buru. Tetapi anak itu tetap saja mengenakannya dan pergi ke sekolah. Akhirnya ia dihukum tidak boleh mengikuti pelajaran. Ia sudah diperingatkan tetapi tetap membandel, akhirnya menerima hukumannya.
Demikian juga seseorang yang tidak meninggalkan kejahatannya, ia tidak akan mendapat bagiannya dalam Kerajaan Allah. Pertobatan yang benar dan membawa kepada pengampunan adalah pertobatan yang disertai dengan tindakan nyata untuk meninggalkan segala perbuatan jahat.
Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia (1 Yoh 3:6).
Keempat, meninggalkan rangcangannya yang jahat
Konsep dari dari tindakan yang belum atau tidak dilakukan dengan perbuatan nyata disebut rancangan. Rancangan ini ada yang tertulis tetapi ada juga yang masih di dalam pikiran seseorang. Merancangkan sesuatu yang jahat terhadap orang lain? Pastilah kita akan menggelengkan kepala, hal itu terasa terlalu ekstrim. Tetapi kita sering mendengar seseorang menganggap masih wajar kalau menyimpan sesuatu yang kurang baik dalam pikirannya sebagai hal biasa.
Banyak orang menganggap dapat hidup dengan kejahatan asal tidak melakukannya.
Allah menuntut pertobatan yang seutuhnya, suatu pertobatan total tanpa menyisakan ruang bagi kejahatan dan rancangannya. Bukan tindakan pura-pura atau setengah-setengah. TUHAN tahu segala sisi hidup kita. Tak ada yang tersembunyi di hadapanNya. Tak ada yang terselip di balik baju kita yang rapi disetrika dan di semprot dengan parfum! Allah tahu isi hati kita.
Menyimpan rangcangan jahat akan menghacurkan hidup kita sendiri.
Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allahataumengucap syukur kepadaNya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap (Rm 1:21).
Dan inilah tandanya, bahwa kitamengenal Allah, yaitujika kita menuruti perintah-perintahNya.
Kelima, menerima pengampunanNya
… maka Dia akan mengasihaninya, dan… memberi pengampunan dengan limpahnya.
Bagaimanakah sikap yang benar untuk menerima pengampunan dari ALLAH? Adakah kita berdiri tegak dan memukul dada dengan gagah dan bangga seolah-olah pengampunan itu adalah hasil pertobatan kita? Perhatikanlah kata, ‘mengasihaninya’! Pertobatan, seberapa pun tulusnya, seberapa pun totalnya atau apapun bentuknya, bukanlah harga yang pantas untuk dibayarkan agar memperoleh pengampunan. Pengampunan adalah anugerah Allah yang diberikanNya atas dasar belas kasihan. Pertobatan adalah bukti pengakuan kita atas kedaulatan TUHAN dalam hidup kita.
‘…itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri’
(Ef 2:9).
Daniel 3:1-30
Pengertian iman berbeda dengan percaya. Kita tahu bahwa air akan membeku atau menjadi es pada suhu nol derajat celcius. Apabila kita meletakkan segelas air pada freezer kulkas yang suhunya di bawah 0oC, maka kita PERCAYA bahwa air itu akan menjadi es.
Ketika saya masih kelas dua SD, saya sangat takut melihat dua ekor kerbau yang sedang beradu di tengah jalan yang saya lalui ketika pulang sekolah. Saya berbalik dan lari menuju rumah seorang teman dan tetap di sana sampai ibu saya menjemput saya. Ketika saya melihat ibu saya datang, hati saya sangat sukacita. Tanpa pikir panjang saya langsung jalan di sebelah ibu menuju rumah kami. Saat itu ketakutan saya sudah hilang sama sekali. Saya merasa seperti sudah melewati kerbau-kerbau itu walaupun kami belum sampai di tempat itu lagi. Demikianlah gambaran sederhana tentang iman. Kita sudah mendapatkan apa yang kita perlukan jauh sebelum hal itu kita terima.
Marilah kita perhatikan, tindakan iman yang benar dari bacaan kita hari ini.
Iman yang benar menempatkan Allah sebagai yang Utama
Disadari atau tidak, kita selalu mengharapkan hasil dari setiap tindakan yang kita lakukan sekecil apapun itu. Tetapi disayangkan tidak selalu dalam tindakan dan harapan mendapat hasil itu, TUHAN mendapat tempat yang utama. Pengalaman, kepintaran, harta dan kehormatan yang kita miliki selalu menjadi dasar dalam mengambil tindakan atau keputusan. Bahkan tidak jarang kita mengambil keputusan berdasarkan emosi atau gelap mata.
Perhatikanlah baik-baik tindakan dari ketiga orang dalam bacaan di atas. Keputusan yang mereka ambil bukan perkara sederhana, tetapi keputusan yang akan beresiko bagi keluarga, pekerjaan, diri mereka sendiri bahkan bangsanya secara keseluruhan. Mereka semua adalah orang yang memiliki kedudukan di Babel. Dari jabatannya itu mereka memperoleh kehidupan yang baik, harta benda dan kehormatan.
Tetapi karena iman, mereka mengutamakan ALLAH dalam keputusannya, tanpa perlu memperdebatkannya (ay 16-18). Iman adalah tindakan bukan pidato yang berapi-api, bukan pula debat kusir atau debat publik di media massa.
Iman bergantung kepada kehendak ALLAH
Mengutamakan ALLAH tidak menuntut atau memaksa ALLAH melakukan yang kita kehendaki sebagai balasan atas ketundukan kita kepadaNya. Tetapi mengutamakan ALLAH adalah mengakui dan menyadari segalanya tergantung kepada ALLAH bukan pada kita. Dengan alasan apapun kita sering menuntut ALLAH melakukan sesuatu bagi kita sebagai jawaban dari ketaatan yang kita lakukan. Bahkan kita mengajukan protes apabila jawaban ALLAH tidak sesuai dengan keinginan kita.
Kerendahan hati Sadrakh, Mesakh dan Abednego terungkap dalam ayat 17 dan 18, “…Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”
Iman yang benar mendatangkan kemuliaan bagi ALLAH
Ayat 28; “…“Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya,…”
Hanya ALLAH yang layak mendapat pujian atas apa dilakukanNya, meskipun kita menerima hasil dari tindakan ALLAH tersebut. Karena memang ALLAH yang melakukannya bukan kita. Dengan demikian tidak ada alasan bagi kita untuk bermegah diri.
Apabila kita menaruh iman kepada ALLAH dalam sekecil apapun tindakan yang kita lakukan dan mengutamakan ALLAH dalam sesederhana apapun keputusan yang kita ambil, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersyukur kepadaNya. Itulah sebabnya Paulus menasehati kita untuk selalu bersuyukur.
Kolose 3:17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.
Bacaan : Maz. 111: 1-10
Ay 1
Ay 2 dan 3
Ay 4
Ay 5
Ay 6, 7 & 8
Ay 9
Bacaan : Maz. 111: 1-10
Ay 1
Ay 2 dan 3
Ay 4
Ay 5
Ay 6, 7 & 8
Ay 9