Saya pergi ke sebuah klinik untuk check-up kesehatan rohani.
Pertama kali datang, saya diukur tensi, ternyata saya memiliki “kelembutan hati yang rendah”.
Ketika temperatur saya diukur, termometer menunjukkan derajat “kegelisahan hampir 40 derajat Celcius”.
Ketika pemeriksaan jantung, saluran arteri tersumbat oleh berbagai ”kekecewaan, kesedihan, kemarahan dan dendam,” sehingga memerlukan “bypass”.
Ketika saya ke Orthopedic , kelihatanlah tulang-tulang mulai keropos oleh “rasa cemburu & iri”.
Ketika memeriksakan mata yang mulai terganggu, diketahui penyebabnya adalah karena saya sering “melihat kekurangan-kekurangan” orang di sekitar saya, sehingga kemampuan mata untuk melihat hal-hal yang indah & baik mulai tertutup.
Ketika mengeluhkan pendengaran saya, terapis menyarankan untuk mulai “latihan mendengar suara-suara Tuhan & sesama” setiap hari untuk lebih mensensitifkan pendengaran.
Setelah menjalani semua check-up itu saya mendapat konsultasi dan obat gratis atas kemurahan Tuhan untuk mengobati semua penyakit saya tersebut.
Obat yg diberikan adalah obat alami yang ditulis di atas resep sbb:
- Setiap pagi minum segelas RASA SYUKUR atas segala yang saya miliki
- Setiap siang minum sesendok. PIKIRAN POSITIF & PENGAMPUNAN
- Setiap jam minum 1 buah pil KESABARAN, secangkir KERENDAHAN HATI & satu mangkuk KASIH
- Setiap pulang ke rumah sore hari minum satu dosis CINTA
- Setiap malam sebelum tidur minum kaplet SUARA HATI yg jernih, 1 pil anti KESEDIHAN & KEPUTUSASAAN karena peristiwa-peristiwa yang saya alami hari ini
- Tidur berselimutkan DOA & PENGHARAPAN
Setiap hari saya akan mencoba meminum resep yg diberikan sampai saya benar-benar sehat rohani.
Ada seorang bocah laki-laki sedang berkunjung ke kakek dan neneknya dipertanian mereka. Dia mendapat sebuah katapel untuk bermain-main di hutan. Dia berlatih dan berlatih tetapi tidak pernah berhasil mengenai sasaran. Dengan kesal dia kembali pulang untuk makan malam.
Pada waktu pulang, dilihatnya bebek peliharaan neneknya. Masih dalam keadaan kesal, dibidiknya bebek itu dikepala, matilah si bebek. Dia terperanjat dan sedih.
Dengan panik, disembunyikannya bangkai bebek didalam timbunan kayu, dilihatnya ada kakak perempuannya mengawasi. Sally melihat semuanya, tetapi tidak berkata apapun.
Setelah makan, nenek berkata, “Sally, cuci piring.”
Tetapi Sally berkata, “Nenek, Johnny berkata bahwa dia ingin membantu didapur, bukankah demikian Johnny?”
Dan Sally berbisik, “Ingat bebek?”
Jadi Johnny mencuci piring.
Kemudian kakek menawarkan bila anak-anak mau pergi memancing, dan nenek berkata, “Maafkan, tetapi aku perlu Sally untuk membantu menyiapkan makanan.”
Tetapi Sally tersenyum dan berkata, “Tidak apa-apa, karena Johnny memberitahu kalau ingin membantu.”
Kembali dia berbisik, “Ingat bebek?”
Jadi Sally pergi memancing dan Johnny tinggal dirumah.
Setelah beberapa hari Johnny mengerjakan tugas-tugasnya dan juga tugas-tugas Sally, akhirnya dia tidak dapat bertahan lagi. Ditemuinya nenek dan mengaku telah membunuh bebek neneknya dan meminta ampun.
Nenek berlutut dan merangkulnya, katanya, “Sayangku, aku tahu. Tidakkah kau lihat, aku berdiri dijendela dan melihat semuanya. Karena aku mencintaimu, aku memaafkan. Hanya aku heran berapa lama engkau akan membiarkan Sally memanfaatkanmu.”
Aku tidak tahu masa lalumu. Aku tidak tahu dosa apakah yang dilemparkan musuh kemukamu. Tetapi apapun itu, aku ingin memberitahu sesuatu. Yesus Kristus juga selalu berdiri dijendela. Dan Dia melihat segalanya.
Dan karena Dia mencintaimu, Dia akan mengampunimu bila engkau memintanya. Hanya Dia heran melihat berapa lama engkau membiarkan musuh memperbudakmu.
Hal yang luar biasa adalah Dia tidak hanya mengampuni, tetapi Dia juga melupakan.”
Source: Renungan
Ada seorang tukang kayu. Suatu saat ketika sedang bekerja, secara tak disengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu. Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai arloji tersebut. Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya. Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran diri sendiri si tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu.
Teman-teman pekerja yang lain juga turut membantu mencarinya. Namun sia-sia saja. Arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan. Tibalah saat makan siang. Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan semangat yang lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut.
Saat itu seorang anak yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu,
datang mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia berjongkok dan mencari. Tak berapa lama berselang ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut. Tentu si tukang kayu itu amat gembira. Namun ia juga heran, karena sebelumnya banyak orang telah membongkar tumpukan serbuk namun sia-sia.
Tapi anak ini cuma seorang diri saja, dan berhasil menemukan arloji itu.
“Bagaimana caranya engkau mencari arloji ini ?”, tanya si tukang kayu.
“Saya hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa
mendengar bunyi tik-tak, tik-tak. Dengan itu saya tahu di mana arloji itu
berada”, jawab anak itu.
Keheningan adalah pekerjaan rumah yang paling sulit diselesaikan selama hidup. Sering secara tidak sadar kita terjerumus dalam seribu satu macam ‘kesibukan dan kegaduhan’. Ada baiknya kita menenangkan diri kita terlebih dahulu sebelum mulai melangkah menghadapi setiap permasalahan.
“Segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin.” (Pengkhotbah 4:6)
source: Renungan
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dalam ketidak percayaan. Tidak mungkin ini tempatnya. Sebenarnya, tidak mungkin aku diterima di sini. Aku sudah diberi undangan beberapa kali, oleh beberapa orang yang berbeda, dan baru akhirnya memutuskan untuk melihat tempatnya seperti apa sih. Tapi, tidak mungkin ini tempatnya. Dengan cepat, aku melihat pada undangan yang ada di genggamanku. Aku memeriksa dengan teliti kata-katanya, “Datanglah sebagaimana adanya kamu. Tidak perlu ditutup-tutupi,” dan menemukan lokasinya.
Ya.. aku berada di tempat yang benar. Aku mengintip lewat jendelanya sekali lagi dan melihat sebuah ruangan yang penuh dengan orang-orang yang dari wajahnya terpancar sukacita. Semuanya berpakaian rapi, diperindah dengan pakaian yang bagus dan terlihat bersih seperti kalau mereka makan di restoran yang bagus. Dengan perasaan malu, aku memandang pada pakaianku yang buruk dan compang camping, penuh dengan noda. Aku kotor, bahkan menjijikan.
Bau yang busuk ada padaku dan aku tidak dapat membuang kotoran yang melekat pada tubuhku. Ketika aku akan berputar untuk meninggalkan tempat itu, kata-kata dari undangan tersebut seakan-akan meloncat keluar, “Datanglah sebagaimana kamu adanya. Tidak perlu ditutup-tutupi.”
Aku memutuskan untuk mencobanya. Dengan mengerahkan semua keberanianku, aku membuka pintu restoran dan berjalan ke arah laki-laki yang berdiri di belakang panggung.
“Nama Anda, Tuan ?” ia bertanya kepadaku dengan senyuman.
“Daniel F. Renken,” kataku bergumam tanpa berani melihat ke atas. Aku memasukkan tanganku ke kantongku dalam-dalam, berharap untuk dapat menyembunyikan noda-nodanya.
Ia sepertinya tidak menyadari kotoran yang berusaha aku sembunyikan dan ia melanjutkan, “Baik, Tuan. Sebuah meja sudah dipesan atas nama Anda. Anda mau duduk ?”
Aku tidak percaya atas apa yang aku dengar! Aku tersenyum dan berkata,”Ya, tentu saja!”
Ia mengantarkanku ke sebuah meja dan, cukup yakin, ada plakat dengan namaku tertera dengan tulisan tebal merah tua.
Ketika aku membaca-baca menunya, aku melihat berbagai macam hal-hal yang menyenangkan tertera di sana. Hal-hal tersebut seperti “damai”, “sukacita”,”berkat”, “kepercayaan diri”,”keyakinan”, “pengharapan”, “cinta kasih”, “kesetiaan”, dan “pengampunan”.
Aku sadar bahwa ini bukan restoran biasa! Aku mengembalikan menunya ke depan untuk melihat tempat di mana aku berada. “Kemurahan Tuhan,” adalah nama dari tempat ini!
Laki-laki tadi kembali dan berkata, “Aku merekomendasikan sajian spesial hari ini. Dengan memilih spesial menu hari ini, Anda berhak untuk mendapatkan semua yang ada di menu ini.”
Kamu pasti bercanda! pikirku dalam hati. Maksudmu, aku bisa mendapat SEMUA yang ada dalam menu ini?
“Apa menu spesial hari ini?” aku bertanya dengan penuh kegembiraan.
“Keselamatan,” jawabnya.
“Aku ambil,” jawabku spontan.
Kemudian, secepat aku membuat keputusan itu, kegembiraan meninggalkan tubuhku. Sakit dan penderitaan merenggut lewat perutku dan air mata memenuhi mataku.
Dengan menangis tersedu sedan, aku berkata, “Tuan, lihatlah diriku. Aku ini kotor dan hina. Aku tidak bersih dan tidak berharga. Aku ingin mendapat semuanya ini, tapi aku tidak dapat membelinya.”
Dengan berani, laki-laki itu tersenyum lagi.
“Tuan, Anda sudah dibayar oleh laki-laki di sebelah sana,” katanya sambil menunjuk pintu masuk ruangan. “Namanya Yesus.”
Aku berbalik, aku melihat seorang laki-laki yang kehadirannya membuat terang seluruh ruangan itu.
Aku melangkah maju ke arah laki-laki itu, dan dengan suara gemetar aku berbisik, “Tuan, aku akan mencuci piring-piring atau membersihkan lantai atau mengeluarkan sampah. Aku akan melakukan apa pun yang bisa aku lakukan untuk membayar-Mu kembali atas semuanya ini.”
Ia membuka tangannya dan berkata dengan senyuman, “Anakku, semuanya ini akan menjadi milikmu, cukup hanya bila kamu datang kepadaKu. Mintalah pada-Ku untuk membersihkanmu dan Aku akan melakukannya. Mintalah padaKu untuk membuang noda-noda itu dan itu terlaksana. Mintalah padaKu untuk mengijinkanmu makan di meja-Ku dan kamu akan makan. Ingat, meja ini dipesan atas namamu. Yang bisa kamu lakukan hanyalah MENERIMA pemberian yang sudah Aku tawarkan kepadamu.”
Dengan kagum dan takjub, aku terjatuh di kakiNya dan berkata, “Tolong, Yesus. Tolong bersihkan hidupku. Tolong ubahkan aku, ijinkan aku duduk di meja-Mu dan berikan padaku sebuah hidup yang baru.”
Dengan segera aku mendengar, “Sudah terlaksana.”
Aku melihat pakaian putih menghiasi tubuhku yang sudah bersih. Sesuatu yang aneh dan indah terjadi. Aku merasa seperti baru, seperti sebuah beban sudah terangkat dan aku mendapatkan diriku duduk di mejaNya.
“Menu spesial hari ini sudah dipesan,” kata Tuhan kepadaku. “Keselamatan menjadi milikmu.”
Kami duduk dan bercakap-cakap untuk beberapa waktu lamanya dan aku sangat menikmati waktu yang kuluangkan denganNya. Ia berkata kepadaku, kepadaku dan kepada semua orang, bahwa Ia ingin aku kembali sesering aku ingin bantuan lain dari kemurahan Tuhan. Dengan jelas Ia ingin aku meluangkan waktuku sebanyak mungkin denganNya.
Ketika waktu sudah dekat bagiku untuk kembali ke ‘dunia nyata’, Ia berbisik padaku dengan lembut, “Dan Daniel, AKU MENYERTAI KAMU SELALU.”
Dan kemudian, Ia berkata sesuatu yang tidak akan pernah aku lupakan.
Ia berkata, “Anakku, lihatkah kamu beberapa meja yang kosong di seluruh ruangan ini?”
“Ya, Tuhan. Aku melihatnya. Apa artinya?” jawabku.
“Ini adalah meja-meja yang dipesan, tapi tiap-tiap individu yang namanya tertera di tiap plakat ini belum menerima undangan untuk makan. Maukah kamu membagikan undangan-undangan ini untuk mereka yang belum bergabung dengan kita?” Yesus bertanya.
“Tentu saja,” kataku dengan kegembiraan dan memungut undangan tersebut.
“Pergilah ke seluruh bangsa,” Ia berkata ketika aku pergi meninggalkan restoran tersebut.
Aku berjalan masuk ke “Kemurahan Tuhan” dalam keadaan kotor dan lapar. Ternoda oleh dosa. Asalku bagai kain tua yang kotor. Dan Yesus membersihkanku. Aku berjalan keluar seperti orang yang baru.. berbaju putih, seperti Dia. Dan, aku menepati janjiku pada Tuhanku.
Aku akan pergi.
Aku akan menyebarkan luaskan perkataanNya.
Aku akan memberitakan Injil …
Aku akan membagikan undangan-undangannya.
Dan aku akan memulainya dengan kamu.
Pernahkah kamu pergi ke restoran “Kemurahan Tuhan?” Ada sebuah meja yang dipesan atas namamu, dan inilah undangan untukmu… “DATANGLAH SEBAGAIMANA KAMU ADANYA. TIDAK PERLU DITUTUP-TUTUPI.”
source: Renungan
1Yoh 1:5-10
Ada sementara pihak yang mengajarkan bahwa orang percaya tidak lagi mungkin berbuat dosa. Pandangan seperti ini disebut kesempurnaan atau perfectionisme yang tidak berdasarkan Akitab. Orang percaya dianggap telah tercabut dari akar dosa. Padahal tidak ada seorang Kristen pun yang dapat mengalami kesempurnaan yang sama sekali bebas dari pengaruh dosa di masa hidup ini sebelum tiba masa kebangkitan. Ada pula ajaran yang sedikit dimodifikasi menyatakan bahwa hidup sempurna tanpa dosa hanyalah dalam arti bahwa orang Kristen dapat hidup tanpa melakukan dosa selama jangka waktu tertentu.
Allah adalah terang, Allah adalah kudus, Allah adalah suci. Di dalam Dia tidak ada kegelapan sama sekali. Di dalam terang segala sesuatu menjadi jelas tak ditutupi.
Adalah suatu keistimewaan untuk memperoleh persekutuan dengan Bapa dan Anak. Siapakah Tuhan yang kita ajak bersekutu? Jawabannya jelas pada kata, ‘Allah adalah terang’. Allah yang mengundang kita bersekutu denganNya adalah Allah yang kudus. Dan memang demikianlah adaNya.
Ay. 5 “Dan inilah berita”. Yohanes yang menyatakan hidup hanya dapat diperoleh di dalam Anak dan memberitakannya kepada semua orang kudus agar menjadi sukacita, telah mendengar berita yang dinyatakan Tuhan kepadanya yaitu, “Allah adalah terang”. Hidup yang telah dianugerahkan kepada kita sehingga kita memperoleh persekutuan dengan Bapa dan Anak, yaitu hidup yang berasal dari Allah terang itu dan dengan hidup itu pun kita dapat berada di dalam terang.
Ay6. Dalam ayat ini dan selanjutnya, Yohanes menegaskan kebenaran yang diberitakannya dan menyampaikannya dengan bukti-bukti. Dengan kasih karunia yang membawa kita ke dalam persekutuan dengan Dia, Allah yang adalah terang tidak kompromi, dan jika kita hidup dalam kegelapan maka kita tidak memiliki persekutuan denganNya. Berpura-pura memiliki persekutuan denganNya padahal kita hidup di dalam kegelapan membuat kita gagal melakukan/menerima kebenaran Allah, dan kita telah berdusta.
Ay 7. Tetapi jika kita hidup di dalam terang, kita telah berada di dalam persekutuan. Agar dapat menikmati persekutuan ini kita harus hidup di dalam terang, bukan hanya berbicara tentang terang. Di dalam terang, kita hidup bersama Allah dan di sana tidak ada tempat bagi dosa tersembunyi; semua disingkapkan dan diadili. “Kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain” menyatakan bahwa itu adalah persekutuan dari kedua pihak.
Hanya dengan “Darah Yesus Kristus, AnakNya, menyucikan kita dari segala dosa.” Dosa mengakibatkan kita gagal memperoleh persekutuan yang sesungguhnya, tetapi darah Kristus telah menyingkirkan segala penghalang ini dan mejadi pembela bagi manusia di hadapan Allah. Dengan pertolongan darah Kristus, kita menyadari dapat berdiri di hadapan Allah tanpa cela karena dosa kita sudah dihapuskan. Hal ini hanya dinyatakan di dalam injil.
Di bawah hukum Taurat, manusia memperoleh pengampunan atas dosanya; yaitu dengan korban lembu dan domba. Tetapi penebusan kita berbeda dan jauh lebih baik. Kita menerima kasih karunia itu melalui percikan darah Kristus, yang membawa kita menjadi kudus di dalam terang di hadapan Allah, di dalam persekutuan.
Apakah Anak Allah mencurahkan darahnya berkali-kali? Tidak, darah yang telah dicurahkan ke atas orang yang percaya adalah darah yang telah dicurahkan sekali untuk semua di hadapan Allah, tak berulang-ulang.
Sangat penting bagi orang Kristen untuk mengerti bahwa darah Kristus bagi pengampunan dosa itu hanya dicurahkan sekali untuk selamanya.
Janganlah seperti orang Yahudi yang selalu menginginkan darah baru setiap kesalahan. Sekaran menjadi jelas sekali apa yang dimaksud dengan pengampunan yang sempurna di dalam darah Kristus; Ibr 10:14 “Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan”. Dan orang yang sudah diampuni itu tidak perlu lagi mengakui dosanya yang sudah dipuskan itu. Ibr 10:2
Ay 7 menyatakan keadaan manusia yang telah diampuni dosanya sebagaimana dijelaskan dalam ayat 2 dan 3 dan memperoleh persekutuan dengan Allah. Keadaan di dalam terang setelah disucikan dengan darah Kristus, dan selamanya di sana bersekutu dengan orang-orang kudus; tetapi persekutuan telah terlebilh dahulu terjadi dengan Bapa dan Anak melalui hidup yang kita terima di dalalm Anak.
Ay 8. “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri”. Terang itu menuntut kita agar mengakui keberadaan kita sebagaimana adanya. Mengatakan diri tidak berdosa bukan saja sama dengan mengabaikan kebenaran tetapi juga menyesatkan diri kita sendiri. Saat kita tidak hidup dalam kebenaran, meskipun Kristus yang adalah kebenaran itu ada di dalam kita, kita sedang mem[perhambakan diri kita kepada dosa.
Ay 9, 10. Terang juga menuntut kita agar mengakui kebenaran dalam setiap tindakan kita. Jika kita menolak bahwa kita berdosa, yaitu sama dengan menolak dosa itu ada di dunia, kita tidak bertobat, itu artinya kebenaran tidak ada pada kita. “Ia adalah setia dan adil.” Ia tidak pernah gagal.