Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak kaya…
Lalu Dia menunjukan seorang pria dengan banyak harta, tetapi hidup kesepian, dan tidak memiliki siapapun untuk berbagi.
Aku bertanya kepada tuhan, mengapa aku tidak cantik…
Lalu Dia menunjukan seorang wanita dengan kecantikan yang melebihi lainnya, tetapi memiliki karakter yang buruk.
Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa Ia membiarkan aku menjadi tua…
Lalu Dia menunjukan seorang anak laki-laki berusia 16 tahun sedang terbujur kaku, meninggal karena kecelakaan mobil.
Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak memiliki rumah besar…
Lalu Dia menunjukan sebuah keluarga yang beranggotakan 6 orang, baru saja di usir dari rumahnya yang kecil sesak… dan terpaksa tinggal dijalanan.
Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku harus bekerja…
Lalu Dia menunjukan seorang pria, yang tidak bisa menemukan satu pekerjaan pun. Karena tidak pernah memiliki kesempatan untuk belajar membaca.
Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak menjadi orang terkenal…
Lalu Dia menunjukan seorang yang memiliki banyak sahabat, tetapi semuanya pergi ketika orang itu tidak memiliki harta lagi.
Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak pintar…
Lalu Dia menunjukan seorang yang terlahir jenius, tetapi dipenjara karena menyalahgunakan kepintarannya untuk kejahatan.
Aku bertanya kepada Tuhan,
mengapa Ia begitu sabar dengan orang yang tidak bisa bersyukur seperti aku…
Dia lalu menunjukan AlkitabNya…Dia menunjukan AnakNya,
yang telah mengambil alih tempatku di Kalvari.
Aku tahu sekarang betapa besar Ia mengasihiku…
Dan itu sudah cukup bagiku
Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis memilukan selama berjam-jam sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya.
Akhirnya,si petani memutuskan bahwa hewan itu sudah tua & sumur juga perlu ditimbun (ditutup karena berbahaya), jadi tidak berguna utk menolong si keledai. Dan ia mengajak tetangganya untuk datang membantunya. Mereka membawa sekop & mulai menyekop tanah ke dalam sumur.
Ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam.
Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur. Si petani melihat ke dalam sumur & tercengang karena apa yang dilihatnya. Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh tumpukan tanah & kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang- guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu.
Sementara si petani & tetangganya terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, keledai terus juga mengguncangkan badannya & melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika keledai meloncati tepi sumur & melarikan diri !
THINGS TO LEARN :
Kehidupan terus saja menuangkan segala macam tanah & kotoran kepadamu. Cara untuk keluar dari “sumur” (kesedihan, masalah, dan sebagainya) adalah dengan mengguncangkan segala tanah & kotoran dari diri kita (pikiran & hati kita) & melangkah naik dari “sumur” dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan. Setiap masalah kita merupakan satu batu pijakan utk melangkah.
Kita dapat keluar dari “sumur” yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah ! Ingatlah aturan sederhana tentang Kebahagiaan :
1. Bebaskan dirimu dari kebencian
2. Bebaskanlah pikiranmu dari kecemasan.
3. Nikmati hidup.
4. Berilah lebih banyak.
5. Berharaplah lebih sedikit.
6. Tersenyumlah.
7. Miliki teman yang bisa membuat engkau tersenyum…
Di sebuah desa yg subur, hiduplah 2 lelaki bersaudara. Sang kakak telah berkeluarga dgn 2 orang anak, sedangkan si adik masih melajang.
Mereka menggarap satu lahan berdua dan ketika panen, hasilnya mereka bagi sama rata.
Disuatu malam setelah panen, si adik duduk sendiri dan berfikir. “Pembagian ini sungguh tidak adil. Seharusnya kakakku lah yg mendapat bagian lebih banyak karena dia hidup dengan istri dan kedua anaknya.
Maka dimalam yang sunyi itu diam-diam dia menggotong satu karung padi miliknya dan meletakkanya dilumbung padi milik kakaknya.
Ditempat yg lain, sang kakak juga berfikir, “Pembagian ini tidak adil. Seharusnya adikku mendapat bagian yang lebih banyak, karena ia hidup sendiri, jika terjadi apa-apa dengannya tak ada yang mengurus, sedangkan aku ada anak dan istri yang kelak merawatku.”
Maka sang kakakpun bergegas mengambil satu karung dari lumbungnya dan mengantarkan dengan diam2 ke lumbung milik sang adik.
Kejadian ini terjadi bertahun-tahun …
Dalam benak mereka ada tanda tanya, kenapa lumbung padi mereka seperti tak berkurang meski telah menguranginya setiap kali panen?
Hingga disuatu malam yang lengang setelah panen, mereka berdua bertemu ditengah jalan.
Masing2 mereka menggotong satu karung padi …
Tanda tanya dalam benak mereka terjawab sudah, seketika itu juga mereka saling memeluk erat, mereka sungguh terharu ber urai air mata menyadari betapa mereka saling menyayangi.
Beginilah seharusnya kita bersaudara …
Jangan biarkan harta menjadi pemicu permusuhan melainkan menjadi perekat yg teramat kuat diantara saudara.
Tuhan telah menanamkan cinta pada hati mereka yg mau lelah memikirkan nasib saudara-saudara mereka.
Tuhan tak akan membiarkan kita kekurangan jika kita selalu berusaha mencukupi kehidupan orang lain.
Tuhan tak akan menyusahkan kita yg selalu berusaha membahagiakan orang lain.
1. Pohon tidak makan dari buahnya sendiri.
Buah adalah hasil dari pohon.
Dari mana pohon memperoleh makan? Pohon memperoleh makan dari tanah. Semakin dalam akarnya makin banyak nutrisi yang diserap.
Ini berbicara tentang kedekatan hubungan kita dengan Sang Pencipta sebagai Sumber Kehidupan.
Mengapa buah kurma manis sekali. Pohon kurma itu ditanam di padang pasir. Bijinya ditaruh di kedalaman 2 meter, kemudian ditutup dengan 4 lapisan.
Sebelum pohon kurma itu tumbuh, dia berakar begitu dalam sampai kemudian menembus 4 lapisan tersebut dan menghasilkan buah yang manis di tengah padang pasir.
Ada proses tekanan begitu hebat ketika kita menginginkn hasil yang luar biasa. Seperti juga pegas yang memiliki daya dorong kuat ketika ditekan.
2. Pohon tidak tersinggung ketika buahnya dipetik orang.
Kadang kita protes, kenapa kerja keras kita yang menikmati justru orang lain. Inilah prinsip memberi.
Kita ini bukan bekerja untuk hidup, tetapi bekerja untuk memberi buah.
Kita bekerja keras supaya kita dapat memberi lebih banyak kepada orang yang membutuhkan.
Jadi bukan untuk kenikmatan sendiri.
Cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu, tapi tidak pernah ada kata cukup untuk memberkati orang lain dengan pemberian kita.
3. Buah yang dihasilkan pohon itu menghasilkan biji, dan biji itu menghasilkan multiplikasi.
Ini bicara tentang bagaimana hidup kita memberi dampak positif terhadap orang lain.
Menjadi Orang bukan masalah posisi/jabatan, tapi mengenai pengaruh dan inspirasi yang diberikan kepada orang lain.
Selamat bertumbuh menjadi pohon yang bermanfaat
Originally posted 2012-07-05 09:32:40.
Aku belajar….
bahwa tidak selamanya hidup ini indah, kadang TUHAN mengijinkan aku melalui derita.
Tetapi aku tahu bahwa IA tidak pernah meninggalkanku, sebab itu aku belajar menikmati hidup dengan bersyukur.
Aku belajar….
bahwa tidak semua yang aku harapkan akan menjadi kenyataan, kadang TUHAN membelokkan rencanaku. Tetapi aku tahu bahwa itu lebih baik dari yang aku rencanakan, sebab itu aku belajar menerima semua itu dengan sukacita.
Aku belajar….
bahwa pencobaan itu pasti datang di hidupku, aku tidak mungkin berkata “tidak TUHAN”.
Karena aku tahu bahwa semua itu tidak melampaui kekuatanku, sebab itu aku belajar menghadapinya dengan sabar.
Aku belajar….
bahwa tidak ada kejadian yang harus disesali dan ditangisi, karena semua rancanganNYA indah bagiku.
Maka dari itu aku belajar bersabar, bersyukur, & bersukacita dalam segala perkara. Karena semua itu menyehatkan jiwa & menyegarkan hidupku.
•Ketika “Kaki” sudah tak kuat berdiri… “BERLUTUTLAH”.
•Ketika “Tangan” sudah tak kuat menggenggam… “LIPATLAH”
•Ketika “Kepala” sudah tak kuat ditegakkan… “MENUNDUKLAH”
•Ketika “Hati” sudah tak kuat menahan kesedihan… “MENANGISLAH. •Ketika “Hidup” sudah tak mampu untuk dihadapi… “BERDOALAH”
TUHAN selalu setia bersama kita dan apa saja yang kamu minta dalam DOA dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya…
TUHAN mendengar lebih dari yang kau katakan..
TUHAN menjawab lebih dari yang kau minta..
TUHAN memberi lebih dari yg kau inginkan..
Karena di belakangmu ada kekuatan yang tak terhingga..
Di hadapanmu ada kemungkinan tanpa batas..
Di sekitarmu ada kesempatan yang tiada akhir. Lebih dari itu, di atasmu ada TUHAN yang selalu menyertaimu..
Kasih TUHAN padamu seperti lingkaran, tak berawal & tak berakhir.
Tuhan Yesus memberkati
“Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yakobus 5:16)
Bacaan : Yakobus 5:13-18
> Jari keempat biasanya jari terlemah. Berdoalah bagi mereka yang sedang menghadapi masalah atau yang sedang menderita (Yakobus 5:13-16).
> Lalu sampailah kita pada jari kelingking. Jari ini mengingatkan Anda akan betapa kecilnya Anda dibandingkan dengan kebenaran Allah. Maka, mintalah agar Dia menyediakan kebutuhan Anda (Filipi 4:6,19).
Metode apa pun yang Anda pakai, bercakap-cakaplah dengan Bapa. Dia ingin mendengar apa yang ada di dalam hati Anda
Ada seorang petani di Afrika yang bahagia dan puas dengan hidupnya. Dia senang karena hidupnya berkecukupan. Kecukupan hidupnya membuat dia senang.
Suatu hari seorang bijak datang kepadanya dan menceritakan tentang kemuliaan berlian.
Orang bijak berkata, “Jika Anda memiliki berlian seukuran ibu jari Anda, Anda bisa memiliki kota Anda sendiri. Jika Anda memiliki berlian sebesar kepalan tangan Anda, Anda mungkin bisa memiliki negara sendiri.” Dan kemudian dia pergi.
Malam itu petani tidak bisa tidur. Dia kehilangan rasa bahagianya dan mulai merasa ketidakpuasan.
Keesokan harinya ia membuat persiapan untuk menjual tanah pertaniannya, membiayai keluarganya dan pergi mencari berlian. Dia mencari ke seluruh Afrika dan tidak bisa menemukan apapun. Dia menjelajahi semua Eropa namun tetap tidak menemukan apapun. Ketika ia sampai ke Spanyol, secara emosional, fisik, dan finansial petani itu bangkrut. Ia menjadi begitu kecewa bahkan akhirnya bunuh diri dengan meceburkan dirinya ke Sungai Barcelona.
Sementara di tanah pertanian yang ia tinggalkanl, orang yang telah membeli ladangnya sedang memandikan sapi di sebuah sungai yang mengalir melalui pertanian. Di seberang sungai, sinar matahari pagi mengenai batu dan membuatnya berkilau seperti pelangi. Dia pikir itu akan terlihat indah bila dipasang pada mantelnya. Dia mengambil batu itu dan meletakkannya di ruang tamu.
Sore itu orang bijak datang dan melihat batu yang berkilau itu.
Dia bertanya, “Apakah petani itu telah kembali?”
Pemilik baru berkata, “Tidak, mengapa kau bertanya?”
Orang bijak berkata, “Karena batu itu adalah berlian! Saya langsung mengetahuinya sejak pertama kali melihatnya.”
Pria itu berkata, “Tidak, itu hanya batu biasa yang saya ambil dari sungai. Ayo, aku akan menunjukkan kepada Anda. Ada banyak lagi disana.”
Mereka pergi dan mengambil beberapa batu, mengirimkan batu-batu itu untuk dianalisa. Benar saja, batu-batu itu berlian. Mereka menemukan bahwa pertanian itu ditutupi dengan berhektar-hektar berlian.
>>>>>>>>>>>>
Apa moral dari cerita ini? Ada lima moral:
1. Ketika sikap kita benar, kita menyadari bahwa kita semua berjalan di ladang berlian. Peluang selalu ada di bawah kaki kita. Kita tidak perlu pergi ke mana pun. Yang perlu kita lakukan adalah mengenalinya.
2. Rumput di sisi lain selalu terlihat lebih hijau.
3. Sementara kita iri pada rumput di sisi lain, ada orang lain yang juga iri pada rumput di kebun kita. Mereka akan senang untuk bisa bertukar tempat dengan kita.
4. Ketika orang tidak tahu bagaimana mengenali kesempatan, mereka mengeluhkan kebisingan ketika kesempatan itu mengetuk.
5. Kesempatan yang sama tidak pernah datang dua kali. Yang berikutnya mungkin lebih baik atau lebih buruk, tetapi tidak pernah ada yang sama.
Di sebuah hutan ada seekor burung yang rajin berkicau. Suatu ketika seorang petani melewati pohon tempat burung itu bertengger.
Burung itu menghentikan petani dan bertanya, “Apa yang anda bawa dalam kotak itu dan kemana anda akan pergi?
Jawab petani, “Saya akan ke pasar untuk menukarkan cacing dalam kotak ini dengan beberapa lembar bulu burung”
Burung itu berkata, “Saya memiliki banyak bulu. Saya akan mencabut satu dan memberikannya kepada Anda. dengan demikian saya tak perlu lagi bersusah payah mencari cacing.”
Petani itu memberikan cacingnya dan burung itu mencabut bulunya, memberikan pada petani sebagai imbalan.
Hari berikutnya hal yang sama terjadi, dan hari-hari selanjutnya, hingga kemudian tiba saat burung itu tidak memiliki bulu lagi. Sekarang burung itu tidak bisa terbang untuk berburu mencari cacing. Burung itu tak dapat lagi bernyanyi dan akhirnya mati.
»»»»»»»»»»
Apa moral dari cerita ini?
Apa yang dipikirkan si burung adalah cara mudah untuk mendapatkan makanan, ternyata kemudian berakhir dengan cara yang amat sulit.
Bukankah hal yang sama berlaku dalam hidup kita?
Banyak kali kita mencari cara yang mudah, yang ternyata kemudian berakhir dengan cara yang mengenaskan.
Dí sebuah keluarga tiap pagi ibu bangun membaca alkitab.
Anaknya ingin seperti ibunya.
Suatu hari anak bertanya, ”Bu.. Aku coba membaca Firman seperti yang ibu lakukan tetapi aku tidak memahaminya. Apa yang ku pahami kulupakan secepat aku menutup buku. Apa kebaikan dari membaca Firman?”
Dengan tenang ibu mengambil keranjang tempat arang, melobangi keranjangnya, ia menjawab, ”Bawa keranjang ini ke sungai dan bawa kembali setelah dipenuhi dengan air.”
Si anak melakukan perintah ibunya, tapi semua air habis sebelum tiba di depan rumahnya.
Ibu tertawa dan berkata, “Lain kali kamu harus melakukannya lebih cepat lagi. ”
Ia menyuruh putranya kembali ke sungai untuk dicoba lagi. Si anak berlari lebih cepat, tapi lagi-lagi keranjangnya kosong sebelum tiba di depan rumah.
Ia berkata kepada ibunya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang lubang, maka si anak mengambil ember sebagai gantinya.
Sang ibu berkata, ”Aku tidak mau ember itu..; aku hanya mau keranjang arang itu. Ayolah, usahamu belumlah cukup.”
Maka ibu mengamati usaha anaknya. Anaknya yakin hal itu mustahil, Sekali lagi si anak mengambil air sungai berlari sekuat tenaga menghampiri ibu, tetapi ketika ia sampai sudah kosong lagi.
Sambil terengah-engah ia berkata, ”Lihat bu…, percuma saja!”
”Jadi kamu pikir percuma? Lihatlah keranjangnya.“
Si anak melihat dan ia menyadari keranjang itu jd berbeda. Keranjang itu TELAH BERUBAH keranjang arang yang kotor… kini BERSIH LUAR DAN DALAM.
“Anak ku, hal itulah yang terjadi ketika kamu membaca firma. Kamu tidak bisa memahami atau ingat segalanya, tetapi… ketika kamu terus membacanya, kamu akan berubah luar dalam. Itulah karunia dari Allah di hidup kita.”
Yohanes 15:3 berkata: “Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. ”
Jadikanlah membaca Firman sebagai kegemaran, kewajiban setiap hari, karena manusia bukan hidup dari roti saja tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah.
Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak kaya…
Lalu Dia menunjukan seorang pria dengan banyak harta, tetapi hidup kesepian, dan tidak memiliki siapapun untuk berbagi.
Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak cantik…
Lalu Dia menunjukan seorang wanita dengan kecantikan yang melebihi lainnya, tetapi memiliki karakter yang buruk.
Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa Ia membiarkan aku menjadi tua…
Lalu Dia menunjukan seorang anak laki-laki berusia 16 tahun sedang terbujur kaku, meninggal karena kecelakaan mobil.
Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak memiliki rumah besar…
Lalu Dia menunjukan sebuah keluarga yang beranggotakan 6 orang, baru saja di usir dari rumahnya yang kecil sesak… dan terpaksa tinggal di jalanan.
Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku harus bekerja…
Lalu Dia menunjukan seorang pria, yang tidak bisa menemukan satu pekerjaan pun. Karena tidak pernah memiliki kesempatan untuk belajar membaca.
Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak menjadi orang terkenal…
Lalu Dia menunjukan seorang yang memiliki banyak sahabat, tetapi semuanya pergi ketika orang itu tidak memiliki harta lagi.
Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak pintar…
Lalu Dia menunjukan seorang yang terlahir jenius, tetapi dipenjara karena menyalahgunakan kepintarannya untuk kejahatan.
Aku bertanya kepada Tuhan,
mengapa Ia begitu sabar dengan orang yang tidak bisa bersyukur seperti aku…
Dia lalu menunjukan AlkitabNya…Dia menunjukan AnakNya,
yang telah mengambil alih tempatku di Kalvari.
Aku tahu sekarang betapa besar Ia mengasihiku…
Dan itu sudah cukup bagiku.