Yesus

Orang Kristen dan Dosa

1Yoh 1:5-10

Ada sementara pihak yang mengajarkan bahwa orang percaya tidak lagi mungkin berbuat dosa. Pandangan seperti ini disebut kesempurnaan atau perfectionisme yang tidak berdasarkan Akitab. Orang percaya dianggap telah tercabut dari akar dosa. Padahal tidak ada seorang Kristen pun yang dapat mengalami kesempurnaan yang sama sekali bebas dari pengaruh dosa di masa hidup ini sebelum tiba masa kebangkitan. Ada pula ajaran yang sedikit dimodifikasi menyatakan bahwa hidup sempurna tanpa dosa hanyalah dalam arti bahwa orang Kristen dapat hidup tanpa melakukan dosa selama jangka waktu tertentu.

Allah adalah terang, Allah adalah kudus, Allah adalah suci. Di dalam Dia tidak ada kegelapan sama sekali. Di dalam terang segala sesuatu menjadi jelas tak ditutupi.

Adalah suatu keistimewaan untuk memperoleh persekutuan dengan Bapa dan Anak. Siapakah Tuhan yang kita ajak bersekutu? Jawabannya jelas pada kata, ‘Allah adalah terang’. Allah yang mengundang kita bersekutu denganNya adalah Allah yang kudus. Dan memang demikianlah adaNya.

Ay. 5 “Dan inilah berita”. Yohanes yang menyatakan hidup hanya dapat diperoleh di dalam Anak dan memberitakannya kepada semua orang kudus agar menjadi sukacita, telah mendengar berita yang dinyatakan Tuhan kepadanya yaitu, “Allah adalah terang”. Hidup yang telah dianugerahkan kepada kita sehingga kita memperoleh persekutuan dengan Bapa dan Anak, yaitu hidup yang berasal dari  Allah terang itu dan dengan hidup itu pun kita dapat berada di dalam terang.

Ay6. Dalam ayat  ini dan selanjutnya, Yohanes menegaskan kebenaran yang diberitakannya dan menyampaikannya dengan bukti-bukti. Dengan kasih karunia yang membawa kita ke dalam persekutuan dengan Dia, Allah yang adalah terang tidak kompromi, dan jika kita hidup dalam kegelapan maka kita tidak memiliki persekutuan denganNya. Berpura-pura memiliki persekutuan denganNya padahal kita hidup di dalam kegelapan membuat kita gagal melakukan/menerima kebenaran Allah, dan kita telah berdusta.

Ay 7. Tetapi jika kita hidup di dalam terang, kita telah berada di dalam persekutuan. Agar dapat menikmati persekutuan ini kita harus hidup di dalam terang, bukan hanya berbicara tentang terang. Di dalam terang, kita hidup bersama Allah dan di sana tidak ada tempat bagi dosa tersembunyi; semua disingkapkan dan diadili. “Kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain” menyatakan bahwa itu adalah persekutuan dari kedua pihak.

Hanya dengan “Darah Yesus Kristus, AnakNya, menyucikan kita dari segala dosa.” Dosa mengakibatkan kita gagal memperoleh persekutuan yang sesungguhnya, tetapi darah Kristus telah menyingkirkan segala penghalang ini dan mejadi pembela bagi manusia di hadapan Allah. Dengan pertolongan darah Kristus, kita menyadari dapat berdiri di hadapan Allah tanpa cela karena dosa kita sudah dihapuskan. Hal ini hanya dinyatakan di dalam injil.

Di bawah hukum Taurat, manusia memperoleh pengampunan atas dosanya; yaitu dengan korban lembu dan domba. Tetapi penebusan kita berbeda dan jauh lebih baik. Kita menerima kasih karunia itu melalui percikan darah Kristus, yang membawa kita menjadi kudus di dalam terang di hadapan Allah, di dalam persekutuan.

Apakah Anak Allah mencurahkan darahnya berkali-kali? Tidak,  darah yang telah dicurahkan ke atas orang yang percaya adalah darah yang telah dicurahkan sekali untuk semua di hadapan Allah, tak berulang-ulang.

Sangat penting bagi orang Kristen untuk mengerti bahwa darah Kristus bagi pengampunan dosa itu hanya dicurahkan sekali untuk selamanya.

Janganlah seperti orang Yahudi yang selalu menginginkan darah baru setiap kesalahan. Sekaran menjadi jelas sekali apa yang dimaksud dengan pengampunan yang sempurna di dalam darah Kristus; Ibr 10:14 “Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan”. Dan orang yang sudah diampuni itu tidak perlu lagi mengakui dosanya yang sudah dipuskan itu. Ibr 10:2

Ay 7 menyatakan keadaan manusia yang telah diampuni dosanya sebagaimana dijelaskan dalam ayat 2 dan 3 dan memperoleh persekutuan dengan Allah.  Keadaan di dalam terang setelah disucikan dengan darah Kristus, dan selamanya di sana bersekutu dengan orang-orang kudus; tetapi persekutuan telah terlebilh dahulu terjadi dengan Bapa dan Anak melalui hidup yang kita  terima di dalalm Anak.

Ay 8. “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri”. Terang itu menuntut kita agar mengakui keberadaan kita sebagaimana adanya. Mengatakan diri tidak berdosa bukan saja sama dengan mengabaikan kebenaran tetapi juga menyesatkan diri kita sendiri. Saat kita tidak hidup dalam kebenaran, meskipun Kristus yang adalah kebenaran itu ada di dalam kita, kita sedang mem[perhambakan diri kita kepada dosa.

Ay 9, 10. Terang juga menuntut kita agar mengakui kebenaran dalam setiap tindakan kita. Jika kita menolak bahwa kita berdosa, yaitu sama dengan menolak dosa itu ada di dunia, kita tidak bertobat, itu artinya kebenaran  tidak ada pada kita. “Ia adalah setia dan adil.” Ia tidak pernah gagal.

Kenapa Tuhan Mau Memberkati Kita?

Bacaan: Mazmur 67

Sesungguhnya setiap orang sangat senang memperoleh berkat Tuhan. Terlebih lagi orang Kristen yang memiliki hubungan Bapa-anak dengan Tuhan sehingga tanpa rasa malu atau canggung untuk meminta berkat apa saja kepada Tuhan. Hampir tidak pernah kita sadari mungkin permintaan kita kepada Tuhan ternyata hanya untuk kepentingan diri sendiri. Dengan kata lain kita tak sadar kalau kita terlalu egois dengan permintaan kita. Namun demikian Tuhan setia dan senang mengabulkan setiap permintaan kita sebagaimana kita lihat contohnya dalam doa Yabes yang dikabulkan (1Taw 4;10)

Dan bacaan kita malam ini. Pernahkah kita berpikir tentang alasan Tuhan memberkati kita? Ada banyak jawaban yang kita dapatkan bahkan itu jawaban yang Alkitabiah; karena Dia mengasihi umatNya, karena Dia senang apabila umatNya sejahtera dan karena Ia baik. Ya, Tuhan itu baik.

Dalam pelajaran ini marilah kita merenungkan tiga pertanyaan yang dijawab oleh pemazmur. Inilah yang pertama:

Kenapa Tuhan mau memberkati kita?

Permohonan pemazmur lebih dalam dari doa Yabes, menyatakan kepada kita alasan Tuhan memberkati umatNya.

… supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa.

Pemazmur tidak sedang berkata: “Berkati aku supaya aku merasa hidupku nyaman, supaya aku tidak perlu kerja keras dalam hidup ini, supaya orang lain menjadi segan kepadaku,  supaya aku menjadi orang yang berhasil di mata dunia, supaya aku dapat menjadi berkat bagi orang lain.”

Yang terakhir ini adalah alasan yang alkitabiah sebagaimana Abraham dipanggil untuk menjadi berkat bagi bangsa lain (Kej 12). Tetapi tetap bukan hal ini yang menjadi alasan utama meminta berkat Tuhan. Tuhan memberkati kita, pertama dan terutama supaya kita dapat mendatangkan kemuliaan bagi NamaNya.

Jadi mazmur ini dimulai dan diakhiri dengan pernyataan bahwa berkat Tuhan ditujukan bagi kemulianNya. Itulah  alasan Allah memberkati kita.

Allah hendak memuliakan namaNya bukan hanya dinyatakan dalam mazmur ini saja tetapi itu menjadi isi seluruh Alkitab.

Dalam 1 Raj 8:60 bangsa Israel baru merampungkan pembangunan bait suci. Raja Salomo menaikkan doa yang panjang, dan terdapat alasan kenapa Tuhan mesti  memberkati umatNya; “Supaya segala bangsa di bumi tahu, bahwa Tuhanlah Allah, dan tidak ada yang lain.” Salomo mohon diberkati, supaya semua manusia di mana pun dapat mengenal bahwa hanya ada satu Tuhan, yaitu Yahweh  Allah Israel dan semua yang disebut sebagai tuhan lainnya adalah palsu.

Dalam Yoh 12:27-28. Pada malam sebelum Ia disalibkan, Yesus dihadapkan pada suatu dilema.  Pada saat seluruh sisi kemanusiaanNya melawan bayangan penderitaan jasmani dan psikologis yang akan di alami di kayu salib Ia berkata:

Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini.  Bapa, muliakanlah nama-Mu!” Maka terdengarlah suara dari sorga: “Aku telah memuliakan-Nya, dan Aku akan memuliakan-Nya lagi!”

Yesus tidak meminta keselamatan atau kenyamanan fisik; Ia tidak meminta keberhasilan duniawi atau kehormatan di mata orang banyak. Tetapi apa yang dimintaNya? Kemuliaan bagi Allah. Dan jawab Tuhan: ”Aku telah memuliakan namaKu di dalam hidupMu, dan akan memuliakannya juga dalam kematianMu”

Sangat mudah bagi kita untuk menganggap Tuhan sebagai sukarelawan yang berasal dari sorga, yang selalu siap melayani kita, menyediakan segala keperluan kita, memberi rasa aman dan memelihara kita. Segala kebutuhan manusia menjadi fokus utama kita, sehingga kita menganggap Tuhan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan itu.Tuhan memberkati kita supaya kita dapat memenuhi tujuan keberadaan kita: yaitu, memuliakan DIA.

Memuliakan DIA di antara siapa?

Tuhan memberkati kita supaya kita dapat memuliakan namaNya di antara siapa? Apakah di antara mereka yang sudah percaya? Apakah di antara mereka yang menyebut diri sebagai orang Kristen? Di antara orang  Bali? Di antara orang yang mirip dengan kita?

 “… supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa. Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu…

Wahyu 7:9-10 menolong kita untuk mengerti maksud dari Firman ini.

Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.  Dan dengan suara nyaring mereka berseru: “Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!”

Mengapa penting bagi Tuhan membawa segala suku atau kelompok atau ras manusia ke hadapanNya? Renungkanlah: jika ada kelompok atau suku yang tertinggal, maka orang akan dapat berkata, “Hambatan budaya antara Kekristenan dan suku kami terlalu kuat; sehingga terlalu sulit bagi kami untuk menerima Kristus. Dengan kata lain itu, mereka berkata Allah tidak peduli pada suku kami, pada ras kami, pada bangsa kami. Orang tua, nenek moyang kami semuanya tak kenal Kristus, kami tidak bisa menjadi Kristen. Ini bukan salah kami. Jadi Allah tidak berhak menghakimi kami kalau kami tidak menerima Kristus.”

Allah memuliakan namaNya tanpa mengijinkan  seseorang untuk berdalih.
Mari kita lanjutkan dengan pertanyaan terakhir:

Apakah manfaatnya bagi umat manusia?

Ay. 4 menjawab pertanyaan ini:

Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai, …

Saat manusia memuji Allah, ketika Allah dimuliakan di dalam hidup mereka, apa yang terjadi dengan mereka? Memuliakan Allah membawa mereka kepada sukacita yang luar biasa! Mereka yang tidak memuliakan DIA, mereka yang berjalan di dalam kegelapan, mereka yang terbelenggu oleh ketakutan kepada tuhan yang tidak benar, terikat kepada berhala dan idola mereka, terikat pada harta mereka, pada kehormatan mereka, terikat wanita atau pria pujaan mereka… hidup tanpa sukacita!  … sukacita yang tak terbayangkan!

“….. sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan,” (1Pet 1:8) ? full of glory!

Lanjutan ayat 4 menjelaskan kenapa hal ini terjadi:

“… sebab Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil, dan menuntun suku-suku bangsa di atas bumi.” Maz 23:3 “…Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.”

Karena Allah yang terutama atas segala sesuatu, jika Dia menjadi yang terindah, terkasih, paling berkuasa atas segala sesuatu dalam hidup kita, maka DIA memberi kita sukacita terbesar yang tak pernah kita bayangkan.

Mintalah Tuhan memberkati Anda, supaya orang lain yang belum mengenal Allah yang hidup dan benar, juga dapat memuliakan Allah seperti Anda.

Mintalah berkat kepada Tuhan supaya Anda bisa bersaksi dengan terus terang dan penuh kasih kepada ribuan orang yang Anda jumpai yang belum mengenal Tuhan, yang berjalan di dalam kegelapan, tanpa harapan dan tanpa Tuhan.

Mintalah kepadaNya semua hal ini supaya nama Tuhan dikenal dan dimuliakan oleh setiap suku dan bahasa di bumi ini. Biarlah segala bangsa bersukaria dan memuliakan NamaNya!

Yesus Kristus adalah TUHAN yang Sejati

Yesus Kristus adalah TUHAN yang Sejati

Bacaan Yoh 1:1-18

Topik kita malam ini adalah untuk menguatkan kepercayaan kita kepada TUHAN yang benar dan mahakuasa. Di kalangan orang belum mengenal TUHAN yang benar, ada semacam rasa penasaran bahkan antipati karena orang Kristen dianggap itu menyembah banyak Tuhan. Bahkan orang Kristen pun sering ragu atau tidak mampu menjelaskan apabila ada orang bertanya tentang hal ini. Marilah kita perhatikan penjelasan firman TUHAN malam ini.

Pertama, Yesus Kristus adalah Allah yang Mahakuasa.

Dimulai dengan adanya Firman, dan FIRMAN itu sendiri adalah ALLAH. Perhatikanlah kata FIRMAN, yaitu perkataan yang keluar dari ALLAH. Di dalam Firman itu ada kuasa karena Allah bersama-sama dengan Firman itu dan Firman itulah Allah. Pada ay.14 Dengan tegas disebutkan yang adalah Allah itu telah menjadi manusia. Dan diam di antara kita. Dialah Yesus Kristus yang disebut sebagai Anak Allah. Sebagaimana seseorang mewarisi sifat keturunan dari bapaknya, demikianlah Yesus adalah Anak Allah karena di dalam dia ada segala kepenuhan ALLAH, Dia adalah Allah sejati!

Kol 2:9 Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan,

Istilah Anak digunakan karenaYesus membawa segala sifat ALLAH yang sempurna. Itulah sebabnya ketika orang Filipus bertanya kepadaNya,

“Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.”

Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa (Yoh. 14:8-9)

Inilah penyataan yang sangat terang bagi kita tentang ANAK ALLAH. Allah tidak kawin atau mempunyai anak dengan sendirinya, sebagaimana pengertian dengan akal manusia yang sangat terbatas.

Kedua, di dalam Dia ada HIDUP

Satu lagi kata yang kita gunakan dalam penertian kita yang terbatas adalah kata HIDUP. Secara sederhana kita mengatakan seseorang atau seekor binatang itu hidup apabila ia nampak masih bernafas, bergerak atau ada aktifitas biologis pada tubuhnya. Atau mati, apabila sudah tidak bernyawa lagi. Tetapi yang dimaksud HIDUP dalam pandangan ALLAH dan pengertian Kekristenan adalah persekutuan dengan TUHAN. Bukan persatuan! Janganlah kita terkecoh pada istilah ini, karena ada pandangan tentang seseorang yang telah mati apabila didoakan atau diupacarai akan bersatu dengan TUHAN.

Perhatikanlah ucapan Yesus dalam Yoh 15:5 Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

Dan Yoh 6:56 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.

Ketiga, hidup itu memancarkan terang bagi manusia.

Terang atau cahaya yang dipancarkan dari sesuatu yang bercahaya. Seperti, lampu, bintang dan matahari. ALLAH adalah sumber cahaya dan dari DIA memancar terang kemuliaan yang memenuhi semesta. Ketika Adam dan Hawa mengambil keputusan untuk tidak mematuhi Allah saat itu ia telah terpisah dari ALLAH. Tidak dapat bersekutu dengan ALLAH dan seketika itu ia kehilangan kemuliaan ALLAH. Ia bersembunyi dari cahaya kemuliaan Allah. Bukan hanya Adam dan Hawa, tetapi semua keturunannya dan bahkan seluruh isi dunia telah tercemar oleh dosa sehingga di dalam dunia ini tidak ada terang, tidak ada kemuliaan Allah. Rm 3:23 Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,

Sebagaimana Allah datang mencari dan memanggil Adam demikian juga Dia datang dan memanggil kita di dalam Kristus. Supaya kita kembali kepada terang itu. Kembali kepada kemuliaan yang ALLAH sediakan bagi kita sejak semula. Di dalamYesus kita memperolehkembali kemuliaan Allah yang diberikan kepada kita.

Ibr 1:3 Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan.

Pertobatan yang Membawa Kepada Pengampunan

Bacaan; Luk 15:11-24 dan Yes 55:6-7

Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepadaNya selama Ia Dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan ranangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihinya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya.

Seseorang yang sedang disiksa di kantor polisi karena kedapatan mencuri, berteriak; tobat…tobat… tobat! Ia diadili dan dijebloskan ke dalam penjara selama beberapa bulan. Tetapi tidak lama setelah dilepaskan ia kembali melakukan perbuatan yang sama. Pertobatannya tidak sungguh-sungguh, hanya karena supaya tidak disiksa dan tidak memperoleh pengampunan.

Pertobatan dalam bacaan kita hari ini adalah pertobatan di hadapan TUHAN,  yaitu pertobatan hidup secara total yang mendapat pengampunan dari TUHAN dan hidup bersama Dia selama-lamanya. Apakah yang seharusnya kita lakukan agar kita mendapatkan pengampunan atas segala dosa kita? Marilah kita perhatikan dengan baik langkah-langkah yang benar agar mendapat pengampunan berikut ini.

Pertama, menyadari kekeliruan

Ketika anak bungsu itu mellihat keadaanya yang serba menderita ia mulai menyadari kesalahannya. Keadaannya jauh berbeda dengan kondisi kalau ia tinggal bersama dengan bapanya. Kita dapat menyadari kekeliruan apabila kita mau menggunakan standar yang benar sebagai perbandingan. Bukan mengandalkan pengalaman, pengetahuan atau kekuatan kita yang pasti gagal. Menuju Maut

Ada yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut (Ams 14:12)

Sejak jatuh ke dalam dosa, manusia telah kehilangan kemuliaan Allah dan tersesat tanpa pedoman yang menolongnya menuju TUHAN. Apapun yang mereka anggap benar, ujungnya menuju maut. Kekeliruan hanya dapat diperbaiki apabila kita mengenal kebenaran yang asli atau yang sejati. Yesus berkata, ‘Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yoh 14;6). Hubungan kembali dengan Allah hanya dapat diperoleh di dalam Kristus. Tidak ada cara lain!

Kedua, berseru kepada Allah

Anak bungsu itu bangkit dan pergi kepada ayahnya, ia melakukan tindakan menuju kepada Allah. Nabi Yesaya mengatakan, “Carilah TUHAN… Berserulah kepada-Nya…”  Hanya Dia yang pantas kita cari dan kepada-Nya kita harus berseru, bukan kepada yang lain. Sekarang inilah waktu yang diberikan TUHAN kepada kita. Janganlah menyia-nyiakannya. Karena mungkin kesempatan itu tidak akan datang lagi untuk yang kedua kalinya.

Ketiga, meninggalkan kejahatan

Seorang ibu menegur anaknya yang salah mengenakan seragam sekolah karena kesiangan dan terburu-buru. Tetapi anak itu tetap saja mengenakannya dan pergi ke sekolah. Akhirnya ia dihukum tidak boleh mengikuti pelajaran. Ia sudah diperingatkan tetapi tetap membandel, akhirnya menerima hukumannya.

Demikian juga seseorang yang tidak meninggalkan kejahatannya, ia tidak akan mendapat bagiannya dalam Kerajaan Allah. Pertobatan yang benar dan membawa kepada pengampunan adalah pertobatan yang disertai dengan tindakan nyata untuk meninggalkan segala perbuatan jahat.

Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia (1 Yoh 3:6).

Keempat, meninggalkan rangcangannya yang jahat

Konsep dari dari tindakan yang belum atau tidak dilakukan dengan perbuatan nyata disebut rancangan. Rancangan ini ada yang tertulis tetapi ada juga yang masih di dalam pikiran seseorang. Merancangkan sesuatu yang jahat  terhadap orang lain? Pastilah kita akan menggelengkan kepala, hal itu terasa terlalu ekstrim. Tetapi kita sering mendengar seseorang menganggap masih wajar kalau menyimpan sesuatu yang kurang baik dalam pikirannya sebagai hal biasa.

Banyak orang menganggap dapat hidup dengan kejahatan asal tidak melakukannya.

  • Menyimpan gambar/video porno dengan alasan koleksi
  • Menganggap wajar kalau merokok hanya sekali-sekali asal tidak ketagihan. Kata mereka, Roh Kudus tinggal di hati bukan di paru-paru.
  • Ada juga yang berkata, ‘saya minum sedikit saja tidak sampai mabuk, hanya untuk menjaga hubungan dengan teman.

Allah menuntut pertobatan yang seutuhnya, suatu pertobatan total tanpa menyisakan ruang bagi kejahatan dan rancangannya. Bukan tindakan pura-pura atau setengah-setengah. TUHAN tahu segala sisi hidup kita. Tak ada yang tersembunyi di hadapanNya. Tak ada yang terselip di balik baju kita yang rapi disetrika dan di semprot dengan parfum! Allah tahu isi hati kita.

Menyimpan rangcangan jahat akan menghacurkan hidup kita sendiri.

Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allahataumengucap syukur kepadaNya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap (Rm 1:21).

Dan inilah tandanya, bahwa kitamengenal Allah, yaitujika kita menuruti perintah-perintahNya.

Kelima, menerima pengampunanNya

maka Dia akan mengasihaninya, dan… memberi pengampunan dengan limpahnya.

Bagaimanakah sikap yang benar untuk menerima pengampunan dari ALLAH? Adakah kita berdiri tegak dan memukul dada dengan gagah dan bangga seolah-olah pengampunan itu adalah hasil pertobatan kita?  Perhatikanlah kata, ‘mengasihaninya’! Pertobatan, seberapa pun tulusnya, seberapa pun totalnya atau apapun bentuknya, bukanlah harga yang pantas untuk dibayarkan agar memperoleh pengampunan. Pengampunan adalah anugerah Allah yang diberikanNya atas dasar belas kasihan. Pertobatan adalah bukti pengakuan kita atas kedaulatan TUHAN dalam hidup kita.

‘…itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri
(Ef 2:9).

Iman yang Benar

Daniel 3:1-30

Pengertian iman berbeda dengan percaya. Kita tahu bahwa air akan membeku atau menjadi es pada suhu nol derajat celcius. Apabila kita meletakkan segelas air pada freezer kulkas yang suhunya  di bawah 0oC, maka kita PERCAYA bahwa air itu akan menjadi es.

Ketika saya masih kelas dua SD, saya sangat takut melihat dua ekor kerbau yang sedang beradu di tengah jalan yang saya lalui ketika pulang sekolah. Saya berbalik dan lari menuju rumah seorang teman dan tetap di sana sampai ibu saya menjemput saya. Ketika saya melihat ibu saya datang, hati saya sangat sukacita. Tanpa pikir panjang saya langsung jalan di sebelah ibu menuju rumah kami. Saat itu ketakutan saya sudah hilang sama sekali. Saya merasa seperti sudah melewati kerbau-kerbau itu walaupun kami belum sampai di tempat itu lagi. Demikianlah gambaran sederhana tentang iman. Kita sudah mendapatkan apa yang kita perlukan jauh sebelum hal itu kita terima.

Marilah kita perhatikan, tindakan iman yang benar dari bacaan kita hari ini.

Iman yang benar menempatkan Allah sebagai yang Utama

Disadari atau tidak, kita selalu mengharapkan hasil dari setiap tindakan yang kita lakukan sekecil apapun itu. Tetapi disayangkan tidak selalu dalam tindakan dan harapan mendapat hasil itu, TUHAN mendapat tempat yang utama. Pengalaman, kepintaran, harta dan kehormatan yang kita miliki selalu menjadi dasar dalam mengambil tindakan atau keputusan. Bahkan tidak jarang kita mengambil keputusan berdasarkan emosi atau gelap mata.

Perhatikanlah baik-baik tindakan dari ketiga orang dalam bacaan di atas. Keputusan yang mereka ambil bukan perkara sederhana, tetapi keputusan yang akan beresiko bagi keluarga, pekerjaan, diri mereka sendiri bahkan bangsanya secara keseluruhan. Mereka semua adalah orang yang memiliki kedudukan di Babel. Dari jabatannya itu mereka memperoleh kehidupan yang baik, harta benda dan kehormatan.

Tetapi karena iman, mereka mengutamakan ALLAH dalam keputusannya, tanpa perlu memperdebatkannya (ay 16-18). Iman adalah tindakan bukan pidato yang berapi-api, bukan pula debat kusir atau debat publik di media massa.

Iman bergantung kepada kehendak ALLAH

Mengutamakan ALLAH tidak menuntut atau memaksa ALLAH melakukan yang kita kehendaki sebagai balasan atas ketundukan kita kepadaNya. Tetapi mengutamakan ALLAH adalah mengakui dan menyadari segalanya tergantung kepada ALLAH bukan pada kita. Dengan alasan apapun kita sering menuntut ALLAH melakukan sesuatu bagi kita sebagai jawaban dari ketaatan yang kita lakukan. Bahkan kita mengajukan protes apabila jawaban ALLAH tidak sesuai dengan keinginan kita.

Kerendahan hati Sadrakh, Mesakh dan Abednego terungkap dalam ayat 17  dan 18, “…Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja;  tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”

Iman yang benar mendatangkan kemuliaan bagi ALLAH

Ayat 28; “…“Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya,…”

Hanya ALLAH yang layak mendapat pujian atas apa dilakukanNya, meskipun kita menerima hasil dari tindakan ALLAH tersebut. Karena memang ALLAH yang melakukannya bukan kita. Dengan demikian tidak ada alasan bagi kita untuk bermegah diri.

Apabila kita menaruh iman kepada ALLAH dalam sekecil apapun tindakan yang kita lakukan dan mengutamakan ALLAH dalam sesederhana apapun keputusan yang kita ambil, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersyukur kepadaNya. Itulah sebabnya Paulus menasehati kita untuk selalu bersuyukur.

Kolose 3:17  Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.