Antara Janji dan Realita: Catatan Anies Baswedan di Tahun Pertama Prabowo-Gibran
Oleh Gandi, 3 Nov 2025
Satu tahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka telah berlalu momen yang tak hanya menandai kepemimpinan baru di tingkat nasional, tetapi juga membuka ruang kritik dan evaluasi terhadap realisasi janji kampanye-besar mereka. Dalam rangka ini, Anies Baswedan muncul sebagai salah satu pengkritik vokal, menyoroti bahwa setelah “sekitar 20 %” masa jabatan berjalan, sejumlah janji besar masih belum terasa oleh masyarakat.
Kritik Anies: “20 % Sudah Terasa?”
Anies Baswedan dalam forum publik menyampaikan bahwa pemerintahan Prabowo-Gibran sejauh ini belum menyentuh persoalan dasar kehidupan rakyat secara menyeluruh. Ia menyebut bahwa fokus masih tampak pada proyek besar dan citra pemerintahan, sementara urusan seperti “makan”, “kerja”, dan “masa depan anak muda” yang menjadi janji kampanye belum tampak dampaknya nyata.
Lebih lanjut, Anies mengutip bahwa realisasi janji kampanye hanya berada di kisaran 20 % pada tahun pertama. Pernyataan ini kemudian menjadi sorotan dan diperdebatkan oleh para aktivis maupun lembaga pengamat.
Apa yang Mendukung Angka “20 %”?
Beberapa pihak menyatakan bahwa terdapat progres yang sudah dicatat. Sebagai contoh, lembaga pengamat mengungkap bahwa sejumlah program prioritas pemerintah seperti swasembada pangan, makan bergizi gratis, sekolah rakyat, hingga koperasi Merah Putih sudah dijalankan sehingga mendukung klaim bahwa “sekitar 20 % janji” sudah mulai terealisasi.
Namun, mereka yang mengkritik menunjukkan bahwa meski secara administratif atau normatif program sudah ada, namun dampaknya di lapangan belum “terasa” oleh mayoritas masyarakat misalnya akses lapangan kerja yang layak, pengurangan pengangguran yang signifikan, atau pemenuhan kebutuhan pokok yang stabil. Anies menyoroti hal ini secara khusus.
Tantangan Realisasi Janji-Janji
Beberapa tantangan yang menonjol dalam satu tahun pertama ini antara lain:
Skala dan kompleksitas janji: Janji seperti penciptaan jutaan lapangan kerja, pembangunan rumah massal, atau program sosial nasional memerlukan koordinasi lintas instansi, regulasi yang kuat, serta sumber daya besar.
Waktu implementasi: Banyak program besar memerlukan waktu lebih dari satu tahun untuk mulai “terasa” dampaknya oleh masyarakat luas — sehingga kritik “setelah 20 % jalan” bukan semata-menyalahkan, melainkan menunjukkan ekspektasi publik yang tinggi.
Prioritas dan fokus: Menurut Anies, meskipun program sudah diluncurkan, prioritas belum selalu ke sisi yang paling dirasakan langsung rakyat — seperti pengentasan kemiskinan, jaminan pangan, atau pekerjaan informal yang tersebar luas. Pojoksatu
Komunikasi dan persepsi publik: Realisasi yang terjadi mungkin belum terkomunikasikan dengan baik atau belum merata secara persepsi, sehingga masyarakat merasa “belum merasakannya”.
Implikasi bagi Pemerintahan
Kritik Anies dan anggapan bahwa hanya “sekitar 20 %” janji yang mulai terealisasi memiliki beberapa implikasi:
Tekanan untuk akselerasi: Dengan hanya sebagian kecil waktu pemerintahan berlalu, tekanan publik akan semakin besar agar program yang tersisa dapat segera diberi hasil nyata.
Pengelolaan ekspektasi: Pemerintah perlu mengelola ekspektasi rakyat dan transparan dalam menyampaikan progres, tantangan, dan waktu yang realistis untuk dampak program.
Monitoring dan evaluasi: Data yang akurat dan terpadu sangat penting agar realisasi bisa diukur secara objektif bukan hanya mengandalkan klaim atau persepsi.
Pentingnya hasil yang terasa: Bagi publik, bukan hanya peluncuran program yang penting, melainkan kehidupan sehari-hari yang berubah pekerjaan lebih tersedia, harga pangan stabil, akses layanan meningkat itulah yang membuat janji terasa.
Memasuki tahun pertama pemerintahan Prabowo-Gibran, kita berada di titik refleksi: apakah janji besar kampanye sudah mulai terasa oleh masyarakat? Kritik Anies Baswedan bahwa hanya sekitar 20 % yang terealisasi mencerminkan adanya gap antara peluncuran program dan perubahan nyata dalam kehidupan rakyat. Realitas waktu, kapasitas implementasi, dan skala tantangan semuanya memainkan peran.
Namun, ini juga bukan penilaian akhir masih banyak waktu, masih banyak ruang untuk akselerasi. Kunci keberhasilan tidak hanya pada judul program, tetapi pada dampak yang dirasakan oleh rakyat di ruang publik, dapur, dan lapangan kerja sehari-hari. Apabila dampak ini mulai tampak dengan konsisten, maka janji besar akan terasa—bukan hanya dalam retorika, tapi nyata di kehidupan masyarakat.
Artikel Terkait
Artikel Lainnya